Cerita tentang Ratna teman saya.
Cerita ini adalah cerita tentang Ratna (bukan nama
sebenarnya), teman saya waktu masih di SMA di
Yogyakarta. Ratna adalah anak alim dan manis sekali
yang bersekolah disatu SMA putri. Saya kebetulan
berkenalan dengan dia karena kami sering bertemu di
kegiatan olah raga. Saya senang sekali berteman dengan
Ratna karena anaknya sangat pendiam dan obrolannya
selalu bermutu.
Selain itu ternyata Ratna selalu menjadi juara kelas
walaupun dia selalu rendah diri. Saya sendiri tidak
terlalu hebat di SMA, oleh karena itu suatu hari saya
minta untuk bisa belajar dengan dia. Kami sama-sama
dijurusan IPA (science) walaupun sebenarnya Ratna
ingin belajar tentang sejarah. Kami belajar
bersama-sama mati-matian untuk bisa lulus SMA dengan
nilai yang bagus dan bisa masuk ke perguruan tinggi
negeri.
Seperti biasa, Ratna ternyata lulus dengan menjadi
juara satu dari SMAnya dan saya ya lulus juga walaupun
nilainya tidak terlalu bagus. Selama liburan setelah
ujian masuk ke perguruan tinggi, saya sering bertemu
dengan Ratna walaupun kami bukannya 'pacaran'. Ratna
sangat pemalu, oleh karena itu dia senang saya temani
pergi ke bioskop ataupun makan gudeg di Malioboro.
Tidak pernah kami jatuh cinta, tetapi memang
menyenangkan mempunyai teman yang bisa diajak
berbicara tentang banyak hal yang menarik tentang
kultur ataupun sejarah dunia.
Entah mengapa suatu hari dia tiba-tiba dia bertanya,
"Harris, apakah menurut kamu keperawanan itu penting
?" Wah, saya sempat menjadi kelabakan karena saya
tidak menduga bahwa ada anak perempuan yang bertanya
seperti itu. Walaupun saya sendiri masih perjaka waktu
itu, saya berpendapat bahwa keperawanan tidaklah
terlalu penting oleh karena itu saya jawab, "Ratna,
secara pribadi saya rasa problemnya bukan dari
keperawanan atau tidak. Nilai wanita itu ada dihatinya
dan bukan di selaput daranya".
Dia diam termenung saja, oleh karena itu saya tanya
mengapa dia bertanya tentang hal itu. Dia hanya diam
saja dan memandang saya dengan lama sebelum berkata,
"Harris, saya mau ngomong tentang satu rahasia tentang
saya, janjilah bahwa kamu tidak akan mengatakannya
kepada orang lain". Saya berjanji bahwa saya tidak
akan cerita ini kepada siapapun. Hari ini saya akan
membongkar rahasianya tanpa mengatakan siapa
sebenarnya Ratna itu kepada anda semua. Saya rasa
sekarang kerahasiaannya sudah bukan lagi menjadi
masalah oleh karena itu saya akan ceritakan kepada
anda supaya anda tahu betapa beratnya kehidupan
beberapa wanita yang tidak perawan lagi.
"Saya tidak perawan", kata Ratna dengan suara yang
sedih dan hampir saja dia menangis. Saya hanya bisa
menaruh tanganku diatas tangannya dan berkata, "Jangan
menangis, sampai sekarang saya kenal kamu sebagai anak
perempuan yang kuat sekali. Saya yakin kamu bisa
mengatasi kesulitan ini". Saya hanya bisa ngomong
saja, padahal saya sendiri bingung bagaimana Ratna
akan bisa diterima oleh anak laki-laki Indonesia yang
kebanyakan selalu menuntut keperawanan calon istrinya.
Sebelum saya tanya mengapa dia sampai tidak perawan
lagi, saya hanya bisa bilang bahwa sebaiknya dia tidak
bercerita tentang hal ini kepada siapapun juga.
Kebetulan dia bercerita kepada saya dan walaupun saya
tidak lagi ke mesjid ataupun ke gereja, saya masih
agak mempunyai hati nurani. "Janganlah cerita ini
kesiapapun lagi, jangan-jangan malah kamu akan jatuh
kemulut buaya". Dia hanya mengangguk.
Setelah kesedihannya mulai meluntur, saya bertanya
mengapa dia sampai tidak perawan lagi. "Saya diperkosa
oleh paman saya waktu dia tinggal dirumah kami. Saya
waktu itu berumur masih sepuluh tahun dan saya tidak
mengerti apa yang terjadi". Waduh ! Saya jadi trenyuh
sekali. "Ini terjadi sampai selama satu tahun, sampai
suatu hari paman saya harus pindah ke Medan. Selama
itu malam-malam sering dia masuk kamar dan memperkosa
saya". "Dia mengancam saya supaya tidak bilang apa-apa
kepada orang tua. Saya masih kecil waktu itu dan saya
ketakutan", katanya dengan sedih.
Ratna akhirnya tidak pernah bilang apa-apa kepada
orang tuanya, waktu dia mulai puber dan mengerti apa
yang sebenarnya terjadi dia sempat hampir ingin bunuh
diri. Saya mulai mengerti mengapa Ratna begitu
pendiamnya dan selalu ingin bertarung untuk menjadi
nomer satu di sekolah ataupun di
pertandingan-pertandingan olah raga. Ternyata dia
ingin mengatasi masalah mindernya terhadap anak-anak
lainnya.
Wah, rahasia ini memang luar biasa beratnya. Kami
masih sering bertemu sejak hari itu, juga setelah dia
masuk jurusan sejarah di universitas. Saat itu dia
masih selalu cantik tetapi tidak pernah dia menerima
teman laki-laki karena selalu ketakutan. Suatu hari,
saya berbincang-bincang lagi dengan dia. Saya sempat
berkata, 'Ratna, mungkin kebahagiaan kamu ada di
seberang lautan. Mungkin jodohmu tidak disini'. Saya
berkata ini hanya untuk ngomong saja dan tidak serius.
Saya tidak menyangka bahwa suatu hari Ratna berangkat
ke Belanda setelah mendapat beasiswa dari Erasmus
Huis.
Berita terakhir yang saya dapat dari orang tuanya
adalah bahwa dia akhirnya menikah dengan orang Belanda
dan tinggal disana. Saya senang bahwa akhirnya Ratna
bisa keluar dari penderitaannya yang berlarut-larut.
Saya hanya bisa mengharap supaya Ratna hidup
berbahagia disana, lepas dari belenggu masa lalunya.
Seandainya Ratna (bukan nama sebenarnya) membaca
cerita ini, saya yakin dia tahu siapa sebenarnya saya
ini walaupun 'Harris Chandra' bukan nama saya yang
sebenarnya. Berilah kabar untuk saya, saya akan senang
mendengar bahwa kamu hidup berbahagia di negara orang
seperti saya.
Sekarang saya sedang bertanya-tanya berapakah ada
kasus yang mirip kasusnya Ratna ? Berapakah banyaknya
wanita Indonesia yang diperkosa tetapi diam saja untuk
menutupi 'aibnya' ? Apakah ada catatan tentang
kasus-kasus seperti ini ? Pertanyaan pertanyaan ini
tidak akan pernah terjawab.
Lain kali saya akan cerita tentang Wati, anak
perempuan dari SMA negeri yang cantik dan pandai
tetapi terpaksa meninggalkan bangku sekolah karena
jatuh hamil.
0 komentar:
Posting Komentar